Tuesday, January 24, 2012

Perbandingan Puisi Karya Kenji Miyazawa dan Amir Hamzah

Posted by Dinda-Chan | at 5:29 PM




1.  Pendahuluan

 Puisi merupakan bentuk ekspresi perasaan seseorang. Keberadaan puisi pun ternyata berkaitan erat dengan kondisi masyarakat dan budaya yang berkembang saat itu. Karya. Perbandingan dua karya sastra yang berbeda wilayah, akan mempengaruhi hasil kedua karya sastra itu


“Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat dari aspek waktu. Sastra bandingan dapat membandingkan dua/lebih periode yang berbeda, sedangkan konteks tempat akan mengikat sastra bandingan menurut wilayah geografis sastra” (Endaswara, 2008 : 129)
Hal itu disebabkan karena wilayah geografis suatu wilayah berbeda, dan budaya yang ada di wilayah tersebut pun berbeda. Hal ini terlihat dari Puisi karya Kenji Miyazawa dan karya Amir Hamzah dari Indonesia.
Budaya Jepang dan Indonesia berbeda. Di Jepang pada masa puisi Kenji Miyazawa budaya yang berkembang yaitu Naturalisme yang di pengaruhi unsur-unsur agama. Untuk budaya yang berkembang di Indonesia pada masa Amir Hamzah yaitu, romantisme bergaya Melayu.
2.  Pembahasan
     2.1  Kenji Miyazawa
            雨ニモマケズ
          (ame ni mo makezu)
           
雨ニモマケズ
(ame ni mo makezu)
風ニモマケズ
(kaze ni mo makezu)
雪ニモ夏ノ暑サニモマケ
(yuki ni mo natsu no atsusa ni mo makenu)
丈夫ナカラダヲモチ
(jōbu na karada wo mochi)
慾ハナク                   
(yoku wa naku)
決シテ瞋ラズ           
(kesshite ikarazu)
イツモシヅカニワラツテヰ
(itsu mo shijika ni waratte iru)
一日ニ玄米四合ト
(ichi nichi ni genmai yon kai to)
味噌ト少シノ野菜ヲタベ
(miso to sukoshi no yasai wo tabe)
アラユルコトヲ
(arayuru koto wo)
ジブンヲカンジヨウニ入レズニ
(jibun wo kanjō ni irezu ni)
ヨクミキキシワカリ
(yoku mikiki shi wakari)
ソシテワスレズ                       
(soshite wasurezu)
野原ノ松ノ林ノ蔭ノ               
(nohara no matsu no hayashi no kage no)
小サナ萱ブキノ小屋ニ
(chiisa na kayabuki no koya ni ite)
東ニ病気ノ子供アレバ           
(higashi ni byōki no kodomo areba)
行ツテ看病シテヤリ
(ikashite kanbyō shite yari)
西ニ疲レタ母アレバ           
(nishi ni tsukareta haha areba)
行ツテソノ稲ノ束ヲ負ヒ       
(ikashite sono ine no taba wo oi)
南ニ死ニサウナ人アレバ       
(minami ni shinisō na hito areba)
行ツテコハガラナクテモイヽトイヒ
(ikashite kowagaranakute mo ii to ii)
北ニケンクワヤソシヨウガアレバ
(kita ni kenka ya soshō ga areba)
ツマラナイカラヤメロトイイ
(tsumaranai kara yamero to ii)
ヒドリノトキハナミダヲナガシ
(hideri no toki wa namida wo nagashi)
サムサノナツハオロオロアルキ
(samusa no natsu wa oro-oro aruki)
ミンナニデクノボートヨバレ
(minna ni deku-no-bō to yobare)
ホメラレモセズ
(homerare mo sezu)
クニモサレズ           
(ku ni mo serezu)
サウイフモノニ
(sō iu mono ni)
ワタシハナリタイ
(watashi wa naritai)
Pada karya sastra modern milik Kenji Miyazawa yang berjudul Ame ni mo makezu, bercerita tentang seseorang yang ingin tetap bertahan dari besarnya badai kehidupan, dan tetap memberikan bantuan, serta kebahagiaan bagi orang lain. Ada pula sudut pandang yang mengatakan bahwa Kenji Miyazawa ingin tetap hidup sebagai petani yang membantu banyak orang-orang.
Dari segi makna karya Kenji Miyazawa cukup mudah dipahami. Dalam puisinya yang berjudul Ame ni mo makezu, juga terdapat kata-kata 日ニ玄米四合ト
味噌ト少シノ野菜ヲタ(satu hari makan nasi 4 mangkok, dengan miso dan sedikit sayuran). Kata-kata ini menunjukkan bahwa Kenji Miyazaki menceritakan sosok yang rela menerjang badai, karena makanan dilambangkan sebagai ujian hidup. Adapula pihak yang menginterpretasikan sebagai sosok seorang Vegetarian.
Menurut sumber yang didapat, Kenji Miyazawa menganut Nichiren Shu Buddhisme. Ia juga dikenal sebagai seorang Vegatarian yang ketat dan juga tidak menikah seumur hidupnya.
Selain itu Kenji Miyazawa selalu membuat karya-karya yang menonjolkan sisi religinya.
“Kenji Miyazawa adalah sastrawan Jepang yang terkenal sering kali mengungkapkan falsafah hidupnya dalam puisi dan karya yang dikarangnya. Falsafah yang ditulisnya jika direnungkan mengandung makna yang sangat dalam dan arif. Bahasanya yang dalam dan tegas dapat dihayati oleh semua lapisan masyarakat, juga menjadi hal yang menonjol dalam karya-karyanya. ”(Pudjiono,2006: 7)
Gaya bahasa yang digunakan menggunakan majas mesodiplosis . Majas mesodiplosis adalah repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan, antara lain terdapat dalam kalimat terdapat juga majas Polisindeton, yaitu gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung. Contohnya : ミンナニデクノボートヨバレ ホメラレモセズ クニモサレズ サウイフモノニ (dikatakan sebagai makhluk sia-sia oleh semua orang tanpa pujian, dan tanpa derita)
Diksi yang dipakai oleh Kenji Miyazawa sudah bagus. Pemilihan katanya sangat cocok dan dapat dipandang dari sudut pandang pembaca akan karyanya. Ada beberapa pengkritik yang mengaitkan karya ini, sebagai karya yang masih mengandung unsur-unsur agama yang dianutnya.
Setting pembuatan puisi ini menceritakan keadaan yang serba susah, dan penuh dengan kesengsaraan. Ada pula yang menggambarkan keadaan pertanian yang mengalami kesulitan. Pembuatan puisi ini ada di masa Meiji. Masa dimana banyak pertentangan tentang kehidupan modernitas yang penuh dengan gejolak.
Amanat  dari puisi tersebut yaitu, kita berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada semua orang. apapun kondisi yang kita miliki, berusaha untuk tetap tegar dan kuat dalam mengarungi kehidupan. Dari amanat tersebut terdapat nilai moral yang terkandung dalam karya Kenji Miyazaki.
Nilai moral yang terkandung yaitu adanya nilai keserhanaan dalam menjalani kehidupan. Tergambar dari kata-kata, 野原(のはら)(まつ)(はやし)(かげ)(ちい)サナ(かや)ブキノ小屋(こや)ニヰテ(tinggal dalam gubuk kecil di bayangan hutan pinus). Pada zaman Meiji karya sastra Kenji Miyazaki, banyak ditulis dalam huruf katakana dan kanji. Hal ini dikarenakan pada masa itu disebelah utara mengenal tulisan Kanji dan katakana, selain itu pada masa Heian tulisan ini lebih terkenal.
2.2 Amir Hamzah
Puisi yang ditulis oleh Amir Hamzah termasuk dalam golongan sastra yang ada di jaman balai pustaka. Salah satu karyanya yaitu, “Buah Rindu”
Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dan nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita.

Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Dalam telingaku seperti dahulu.

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliput dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata.

Sesa’at sekejap mata beta berpesan
Padamu tuan aduhai awan
Arah manatah tuan berjalan
Di negeri manatah tuan bertahan?

Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia.

Ibu, konon jauh tanah Selindung
Tempat gadis duduk berjuntai
Bonda hajat hati memeluk gunung
apatah daya tangan ta’ sampai.

Elang, Rajawali burung angkasa
Turunlah tuan barang sementara
Beta bertanya sepatah kata
Adakah tuan melihat adinda?

Mega telahku sapa
Margasatwa telahku tanya
Maut telahku puja
Tetapi adinda manakah dia !

Analisis puisi :
Dari segi makna agak sulit dimengerti, banyak kata-kata berbahasa melayu yang masih mendominasi bahasa puisi ini. Dalam puisi ini dijelaskan seseorang yang merasa asing ditempat ia tinggal dan menderita karena keterasingannya. Dia sangat merindukan tanah kelahirannya. Hal itu dapat dilihat dari kata-kata :
Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dan nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita.

Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Dalam telingaku seperti dahulu.

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliput dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata.

Menurut sumber yang didapat, dahulu Amir Hamzah tidak tinggal di tanah kelahirannya di Sumatra. Tetapi, ia tinggal di Jawa dan pada puisi buah rindu kental sekali perasaan rindunya pada tanah airnya yaitu Sumatra. Tidak hanya saat ia berada di Jawa saja. Ia juga merasa asing di dunia ini. Hal inilah yang menjadi corak puisi pada karya Amir Hamzah.
Pada karya sastra zaman Pujangga Baru unsur budaya yang masuk karena adanya kesamaan bahasa antara bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia.

“pada karya Amir Hamzah yang dilahirkkan di Deli sampai juga pada hati masyarakat Melayu. Hal ini di karenakan adanya komunikasi saling faham pada masyarakat.”(Sariyan dan Thani Ahmad,1984:516)
Gaya bahasa yang dipakai adalah gaya bahasa melayu, dan menggunakan beberapa jenis majas, antara lain : Majas asonansi, yaitu gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama. Majas ini terlihat pada (Tuan aduhai mega berarak, Yang meliput dewangga raya, Berhentilah tuan di atas teratak).
Terdapat juga majas Paralelisme yaitu gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris atau kalimat. Majas ini biasanya digunakan dalam pantun-pantun, dan hampir semua bait dalam puisi ini menggunakan majas Paralelisme.
Diksi yang dipakai dalam puisi ini cocok dan berkesan melayu. Tiap-tiap bait puisi ini terdiri dari kumpulan pantun-pantun, hingga berbentuk puisi. Selain itu kekuatan pada puisi karya Amir Hamzah terletak pada penggunaan kata kiasan seperti Musafir lata. Pemakaian kata yang terlihat lebih tersusun dan berirama pada huruf belakang tiap kalimat dengan pola a-o-a-o.
Setting pembuatannya bertema Romantisme bergaya melayu. Pada zaman balai pustaka kebanyakan sastra yang dibuat berbentuk kumpulan pantun yang dijadikan puisi. Hal itu dikarenakan pada zaman itu, jenis sastra yang banyak berkemabang adalah sastra melayu.
Amanat yang dapat dipetik dari karya sastra Amir Hamzah yaitu seseorang yang sangat mencintai tanah kelahirannya dan selalu mengingatnya dimanapun dia berada. Dia tidak pernah lupa darimana dirinya berasal.

3. Penutup
Dapat dilihat adanya beberapa perbedaan antara karya yang dibuat pada zaman meiji yang berlangsung antara 1869-1933 dengan karya sastra yang dibuat pada zaman Balai Pustaka pada tahun 1920-an. Jika dilihat dari segi budaya, dapat dibandingkan dimana puisi karya Kenji Miyazaki berlatar budaya agama budha yang bersifat Natuiralisme. Diama penggambaran keadaannya masih mengacu pada bentuk-bentuk alam. Selain unsur agama, juga tedapat unsur-unsur keadaan sosial di jaman itu.
Sedangkan pada karya sastra milik Amir Hamzah yang dibuat pada masa awal perkembangan sastra di Indonesia, dimana sastra tersebut masih tergolong sastra Balai pustaka akan terasa budaya-budaya melayu. Pada masa penyair Amir Hamzah, mayoritas budaya yang berkembang saat itu adalah budaya melayu. Maka, karya sastra yang berkembang akan berkiblat pada budaya melayu dari segi gaya bahasa..
Karya Kenji Miyazaki pada zaman Meiji, zaman dimana pembuatan karya sastra ini banyak terjadi pemberontakan dalam negeri tentang adanya modernisasi di dalam negara Jepang. Pada zaman ini, banyak sekali kesusahan yang melanda masyarakatnya, baik dalam bidang pertanian, agama, kondisi lingkungan dan kesulitan hidup sehari-hari.
Sedangkan dalam karya Amir Hamzah yang terlihat dalam puisi/syair yang ia buat, tergambar kehidupan yang masih memegang adat melayu yang kental. Dapat dirasakan ketika membaca kata-kata panggilan dengan Adinda, Tuan, Beta, dan lainnya.
Dengan kata Lain dapat dikatakan bahwa budaya dapat mempengaruhi, karya sastra yang tumbuh dan berkembang. Hal ini dikarenakan, sastra adalah pencerminan dan pencitraan kehidupan realita sehari-hari kita dalam masyarakat. Secara tidak langsung sastra dapat menghegemoni pikiran masyarakat. Hal itu tergantung bagaimana sastra itu digunakan.
 
Daftar Pustaka
Endaswara,Suwardi, 2008. Metodologi
Penelitian Sastra. Jakarta : PT.
Buku Kita
Sariyan dan Thani Ahmad,Mohammad,1984.
           Kesinambungan sastra dalam Karya
           Sastra Melayu (Malaysia),University
          of Malaysia. Kuala Lumpur.
Pudjiono, Muhammad, 2006. Analisis Nilai-
           Nilai Religius dalam (Cerita Pendek)
           Cerpen Karya Miyazawa Kenji,
           Universitas Sumatra Utara.
Website
www.Kenji_Miyazawa/wikipwedia.com (diakses tanggal 14 Juli 2010)
(diakses tanggal 21 september 2010)

0 comments:

Post a Comment

 
~ Home Sweet Home - Designed by Miss Rinda - Layout by My Blog Make Over - Author YOUR NAME HERE :) ~
Boucing Smiley Star